SALAM SELAMAT DATANG

"ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH" SELAMAT DATANG DI JELI.WEB.ID "TETAP SEMANGAT MENCERDASKAN BANGSA" dan BERMANFAAT UNTUK ORANG LAIN,

Senin, 07 Juli 2014

Jenis- jenis Metode Pembelajaran


Jenis- jenis Metode Pembelajaran

Metode pembelajaran dalam rangka aplikasi suatu model pembelajaran harus disesuaikan dengan tujuan  yang akan  dicapai. Penerapan  sebuah  model pembelajaran memungkinkan digunakannya metode pembelajaran lebih dari satu. Adapun jenis- jenis metode pembelajaran dapat dicermati pada paparan berikut.

1.      Metode Ceramah
Ceramah merupakan metode pembelajaran yang konvensional. Ceramah jika terlalu sering digunakan tidak akan efektif. Menurut Suprayekti (2003: 32) metode   ceramah   perlu   diperbaiki   dalam   penerapannya   dengan   cara:   (a) membangun   daya   tarik,   (b)   memaksimalkan   pengertian   dan   ingatan,   (c) melibatkan siswa, dan (d) memberikan penguatan.

Cara untuk membangun minat siswa pada saat guru menerapkan metode ceramah, yaitu: (a) guru mengemukakan cerita atau visual yang menarik, seperti: anekdot,  cerita  fiksi,  kartun,  atau  media  visual  yang  menarik  siswa;  (b) kemukakan suatu problem; (c) kemukakan nilai positif dan manfaat; dan (d) berikan pertanyaan yang memotivasi siswa untuk memiliki rasa ingin tahu.
Metode ceramah dalam penerapannya perlu memaksimalkan pemahaman dan   ingatan.   Adapun   cara   yang   dapat   ditempuh   untuk   memaksimalkan pemahaman dan ingatan, yaitu: (a) memberikan headlines dan kata kunci; (b) kemukakan  contoh  dan  analogi;  dan  (c)  gunakan  media  pembelajaran  atau minimal  alat  bantu  visual.  Agar  siswa  tidak  pasif,  maka  penerapan  metode ceramah  perlu  melibatkan  peserta  didik.  Hal  tersebut  salah  satunya  dapat ditempuh dengan memberikan tantangan spot. Tantangan spot adalah penghentian ceramah  secara  periodik  disertai  dengan  memberikan  tantangan  kepada  siswa untuk memberikan contoh dari konsep yang disajikan. Selain penggunaan tantangan spot, pemberian latihan-latihan juga dapat melibatkan siswa dalam ceramah. Latihan-latihan yang diberikan diarahkan untuk memperjelas point-point yang telah disampaikan dalam cermah.
Materi yang disampaikan melalu metode ceramah mudah terlupakan. Kondisi tersebut perlu diatasi dengan memberikan daya penguat ceramah. Adapun cara untuk memberikan daya penguat dalam metode ceramah, yaitu: aplikasi masalah dan review. Aplikasi masalah adalah pemberian masalah atau pertanyaan pada siswa untuk diselesaikan dengan memanfaatkan informasi yang diberikan pada saat ceramah. Selain itu, penguatan dapat diberikan dengan memberikan review. Review dalam hal ini siswa diminta mengulas ceramah yang telah disampaikan.

2.      Metode Tanya- Jawab
Metode tanya- jawab juga merupakan metode pembelajaran konvensional. Metode tanya- jawab digunakan guru untuk mengetahui tingkat pemahaman peserta didik terhadap suatu masalah. Menurut Mulyatiningsih (2011: 224) ada tiga pertanyaan yang perlu untuk diketahui dalam menyampaikan materi pembelajaran, yaitu: (a) pertanyaan terfokus, (b) prompting questions, dan (c) probing question.
Pertanyaan terfokus adalah pertanyaan yang hanya digunakan untuk mengetahui perhatian atau pemahaman peserta didik pada topik yang dipelajari. Prompting question adalah pertanyaan yang menggunakan isyarat (hint) dan petunjuk (clues) sebagai alat peserta didik dalam mengingat jawaban. Prompting question juga diterapkan untuk membantu peserta didik menjawab pertanyaan dengan menyebutkan huruf atau kata awalnya. Adapun probing questions adalah pertanyaan yang digunakan untuk mencari klarifikasi dan mengarahkan peserta didik agar menjawab pertanyaan lebih lengkap lagi.

3.      Metode Resitasi
Metode resitasi biasanya digunakan untuk mendiagnosis kemajuan belajar peserta didik. Resitasi diterapkan dengan menggunakan pola yaitu guru bertanya, peserta didik memberikan respon, lalu guru memberikan reaksi. Resitasi menurut Gage  dan  Berliner  (melalui  Mulyatiningsih,  2011:  225)  umumnya  digunakan dalam review, pengantar materi baru, mengecek jawaban, praktik, dan mengecek pemahaman peserta didik terhadap materi pelajaran dan ide-idenya.

4.      Metode Praktik dan Drill

Metode praktik dilakukan setelah materi dipelajari atau guru memberikan demonstrasi. Metode drill digunakan ketika peserta didik diminta mengulang informasi pada topik-topik khusus sampai dapat menguasai topik-topik yang diajarkan. Metode praktik dan drill disebut juga metode praktik dan latihan. Metode tersebut diarahkan pada pengulangan (repitisi) untuk membantu peserta didik memiliki pemahaman yang lebih baik dan mudah mengingat kembali informasi yang sudah disampaikan.

5.      Metode Diskusi

Metode diskusi merupakan metode pembelajaran yang mengarahkan pembelajaran untuk berpusat pada siswa. Pencapaian kompetensi pada mata pelajaran teori sering menggunakan metode diskusi supaya peserta didik aktif dan memperoleh pengetahuan berdasarkan hasil temuannya sendiri. Beberapa metode diskusi   yang   memberikan   peluang   untuk   menciptakan   suasana   aktif   dan menyenangkan sebagai berikut.
a.      Metode panel
Metode panel menurut Hadisoewito (2009: 30) adalah cara pembelajaran yang melibatkan perwakilan beberapa ahli untuk mendiskusikan suatu permasalahan yang dihadapi peserta.  Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penggunaan metode panel yaitu:
1)  Para panelis harus membahas permasalahan sesuai dengan keahliannya

2)  Mendiskusikan keterkaitan pembahasannya dengan panelis lainnya

3)  Peserta  diskusi  panel  harus  mempersiapkan  wawasan  untuk  memecahkan masalah
4)  Peserta diskusi panel harus memberikan tanggapan atau pertanyaan

5)  Peserta harus dapat menghormati pendapat orang lain.

b.  Metode Debat

Metode debat adalah cara belajar yang dilakukan melalui diskusi terbuka dengan membahas topik masalah yang kontroversial. Tujuan metode debat yaitu untuk memperoleh pandangan atau pendapat yang berlainan mengenai suatu isyu atau topik kontroversial. Metode tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk melatih berfikir logis dan sistematis.
c.   Metode Simposium

Metode  simposium  menurut  Hadisoewito  (2009:  32)  mengetengahkan suatu sari ceramah mengenai berbagai kelompok topik dalam bidang tertentu. Ceramah tersebut diberikan oleh beberapa ahli. Pendapat tersebut menegaskan bahwa  simposium  adalah  cara  pembelajaran  yang  dilakukan  dengan pengungkapan serangkaian cermah-ceramah yang disampaikan oleh sejumlah pembicara sesuai dengan keahliannya.

6.      Metode Jigsaw

Metode jigsaw pada dasarnya merupakan metode diskusi kelompok. Adapun  langkah-langkah  metode  jigsaw,  yaitu:  (a)  siswa  dikelompokkan  ke dalam tim, dimana satu tim terdiri atas 5-6 siswa; (b) tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang berbeda; (c) tiap orang dalam tim diberi bagian materi yang ditugaskan; (d) anggota dari tim yang berbeda yang telah mempelajari bagian/sub bab yang sama bertemu dalam kelompok baru (kelompok ahli) untuk mendiskusikan sub bab mereka; (e) setelah selesai diskusi sebagai tim ahli tiap anggota  kembali  ke  kelompok  asal  dan  bergantian  mengajar  teman  satu  tim mereka tentang sub bab yang mereka kuasai dan tiap anggota lainnya mendengarkan dengan sungguh-sungguh; (f) tiap tim ahli mempresentasikan hasil diskusi; dan (g) guru memberi evaluasi dan penutup.

7.      Metode Investigasi

Metode investigasi dapat dilakukan secara kelompok maupun individu. Metode ini dilakukan dengan cara melibatkan peserta didik dalam kegiatan investigasi suatu penelitian atau penyelidikan. Adapun cara menerapkan metode investigasi yaitu: (a) mengidentifikasi apa saja yang akan diinvestigasi; (b) merancang cara melakukan investigasi; (c) memerinci dan menyiapkan alat-alat yang diperlukan; (d) melakukan investigasi; dan (e) melaporkan hasil investigasi secara sistematis. Metode investigasi melatih kemampuan menulis laporan, keterampilan berkomunikasi, dan bekerjasama dalam kelompok.

8.   Metode Inqury (Penemuan)

Metode inquiry adalah metode yang melibatkan peserta didik dalam proses pengumpulan data dan  pengujian hipotesis (Mulyatiningsih, 2011: 219). Guru membimbing peserta didik untuk menemukan pengertian baru, mengamati perubahan pada praktik uji coba, dan memperoleh pengetahuan berdasarkan pengalaman belajar mereka sendiri. Metode ini memberikan kesempatan pada siswa untuk belajar secara aktif dan kreatif dalam mencari pengetahuan.

9.   Metode Pemecahan Masalah (Problem Solving)

Metode problem solving merupakan metode yang potensial untuk melatih pesera didik berpikir kreatif dalam rangka memecahkan masalah yang dihadapi secara  individu  maupun  kelompok.  Nasution  (2010:  140)  menyatakan  bahwa suatu kesuksean memecahkan masalah melalui problem solving sulit untuk dilupakan. Kemampuan memecahkan masalah memperbesar kemampuan untuk memecahkan masalah yang lain. Adapun prosedur pelaksanaan metode problem solving, yaitu: (a) mengidentifikasi penyebab masalah; (b) mengkaji teori untuk menemukan solusi; (c) memilih dan menetapkan solusi yang tepat; (d) menyusun prosedur mengatasi masalah; (e) melaksanakan solusi; dan (f) melaporkan hasil tugas.

10. Metode Mind Mapping Pemetaan Pikiran’

Metode   mind   mapping   adalah   metode   pembelajaran   dengan   cara meringkas bahan yang perlu dipelajari, dan memproyeksikan masalah yang dihadapi ke dalam bentuk peta atau grafik sehingga lebih mudah memahaminya (Sugiarto, 2004: 75). Selanjutnya Buzan (2002: 79) menyatakan bahwa mind mapping dapat mendorong peserta didik untuk mencatat hanya dengan menggunakan kata kunci dan gambar. Adapun  langkah-langkah  menerapkan  metode  mind  mapping  yaitu:  (a) guru  menyampaikan  kompetensi  yang ingin  dicapai;  (b)  guru  mengemukakan konsep/permasalahan yang akan ditanggapi oleh siswa/sebaiknya permasalahan yang mempunyai alternatif jawaban; (c) membentuk kelompok yang anggotanya 2-3 orang; (d) tiap kelompok menginventarisasi/mencatat alternatif jawaban hasil diskusi; (e) tiap kelompok (atau diacak kelompok tertentu) membaca hasil diskusinya dan guru mencatat di papan dan mengelompokkan sesuai kebutuhan guru; dan (f) berdasarkan data-data di papan siswa diminta membuat kesimpulan.

11. Metode Student Team- Achievement Devisions (STAD)

Metode STAD menurut  Arends (2008: 13) dikembangkan oleh Robert Slavin sebagai aplikasi pendekatan cooperative learning yang paling sederhana. Metode STAD merupakan kombinasi dari metode ceramah, questioning, dan diskusi.  Adapun  langkah-langkahnya,  yaitu:  (a)  membentuk  kelompok  yang terdiri dari 4 peserta didik bersifat heterogen; (b) guru menyajikan materi, siswa menyimak;   (c)   guru   memberi   tugas   kelompok,   siswa   yang   mengetahui menjelaskan kepada teman-temannya; (d) guru kemudian memberikan tugas pada seluruh siswa, dan pada saat menjawab soal sesama anggota kelompok tidak boleh membantu; (e) guru memberikan penilaian kelompok dari jumlah nilai yang terkumpul dari semua anggota kelompok; dan (f) guru memberikan evaluasi.

12. Team- Game- Tournament (TGT)

Metode TGT memiliki yang hampir sama dengan STAD. Metode TGT menurut Mulyatiningsih (2011: 229) melibatkan aktivitas peserta didik tanpa perbedaan status, dengan tutor teman sebaya, dan mengandung unsur permainan dan penguatan. Adapun langkah- langkah TGT, yaitu: (a) guru menyajikan materi dengan ceramah dan tanya jawab; (b) pembentukkan kelompok dengan anggota 4-
5 siswa yang heterogen; guru memberikan tugas untuk belajar bersama dalam kelompok;  (c)  guru  memberikan  permainan  berupa  pertanyaan  dimana  siswa dapat  memilih  sesuai  dengan  nomor  yang dikehendaki;  (d)  guru  memberikan kompetisi atau turnamen setiap selesai satu materi ajar; dan (e) guru memberikan penghargaan pada kinerja kelompok yang paling baik.

13. Metode Numbered Heads Together

Metode Numbered Heads Together merupakan metode pembelajaran diskusi kelompok yang dilakukan dengan cara memberi nomor kepada semua peserta dan kuis untuk didiskusikan.  Diskusi dilakukan dengan cara memanggil nomor secara acak untuk melaporkan  hasil diskusi kelompok di depan kelas. Peserta didik dari kelompok lain memberikan  tanggapan kepada peserta yang melaporkan. Selanjutnya guru memanggil nomor peserta dari kelompok lain.

14. Metode Make- A Match (Mencari Pasangan)

Metode Make- A Match merupakan metode pembelajaran yang dilaksanakan secara berpasangan, misalnya pasangan antara soal dengan jawaban. Adapun langkah-langkah pembelajarannya, yaitu: (a) guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review, sebaliknya satu bagian kartu soal dan bagian lainnya kartu jawaban; (b) setiap siswa mendapat satu buah kartu; (c) tiap siswa memikirkan jawaban/soal dari kartu yang dipegang; (d) setiap siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang  cocok  dengan  kartunya  (soal  jawaban);  (e)  setiap  siswa  yang  dapat mencocokkan kartunya sebelum batas waktu diberi poin; (f) setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, dan (g) demikian seterusnya.

15. Metode Think Pair and Share

Metode think pair and share timbul dari penelitian tentang cooperative learning dan wait-time (Arends, 2008: 15). Metode think pair and share merupakan metode pembelajaran yang dilakukan dengan cara sharing pendapat siswa. Metode ini dapat digunakan sebagai umpan balik materi yang diajarkan guru. Adapun langkah- langkahnya yaitu: (a) thinking: guru menyampaikan isu atau pertanyaan mengenai materi dan kompetensi yang ingin dicapai; (b)  siswa diminta untuk berfikir tentang materi/permasalahan yang disampaikan guru; (c) pairing: siswa diminta berpasangan dengan teman sebelahnya (kelompok 2 orang) dan mengutarakan hasil pemikiran masing-masing; (d) sharing: tiap kelompok mengemukakan hasil diskusinya; (e) guru mengarahkan pembicaraan pada pokok permasalahan dan menambah materi yang belum diungkapkan para siswa; dan (f) guru memberi kesimpulan.

16. Metode Role Playing Bermain Peran

Metode bermain peran dilakukan dengan cara mengarahkan peserta didik untuk menirukan aktivitas atau mendramatisasikan situasi, ide, ataupun karakter khusus.  Guru  menyusun  dan  memfasilitasi  bermain  peran  kemudian ditindaklanjuti dengan diskusi. Metode ini digunakan untuk membantu peserta didik memahami perspektif dan perasaan orang lain menurut variasi kepribadian dan isu sosial. Penerapan metode ini berdasarkan skenario yang harus diberikan pada peserta didik untuk dipahami agar dapat bermain peran dengan baik.

Daftar Pustaka
Arends, Richard. 2008. Learning to Teach. New York: McGraw Hill Companies
Buzan, T. 2002. Mind Maps. London: Thorsons
Hadisoewita. 2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung: Depdiknas Joyce, Bruce. 2009. Models of Teaching. New Jersey: Upper Saddle River Makmun, Abidin. 2003. Psikologi Pendidikan. Bandung: Rosda Karya Mulyatiningsih, Endang. 2011. Penelitian Terapan. Yogyakarta: UNY Press Nasution. 2010. Berbagai Pendekatan dalam Proses Belajar Mengajar. Jakarta:
Bumi Aksara.
Sugiarto, Iwan. 2004. Mengoptimalkan Daya Kerja Otak dengan Berpikir Holistik dan Kreatif. Jakarta: Gramedia
Sanjaya, Wina. 2008. Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana
            . 2009. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana
Sukarman. 2003. Dasar- Dasar Didaktik dan Penerapannya dalam Pembelajaran.
Jakarta: Depdiknas.
Suprayekti. 2003. Interaksi Belajar Mengajar. Jakarta: Depdiknas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Most Reading

Blogger templates