SALAM SELAMAT DATANG

"ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH" SELAMAT DATANG DI JELI.WEB.ID "TETAP SEMANGAT MENCERDASKAN BANGSA" dan BERMANFAAT UNTUK ORANG LAIN,

Jumat, 18 Juli 2014

METODE PEMBELAJARAN INTERAKTIF



Oleh: Nurhidayati, M. Hum
FBS UNY


Batasan  Pendekatan,  Strategi,  Metode,  Teknik,  Taktik,  dan  Model Pembelajaran


Ada beberapa istilah dalam pembelajaran yang perlu untuk dibedakan batasan atau pengertiannya, yaitu: pendekatan, strategi, metode, teknik, taktik, dan model pembelajaran. Masing- masing istilah tersebut memiliki batasan yang berbeda. Pendekatan pembelajaran menurut Sanjaya (2009: 127) adalah suatu titik tolak atau sudut pandang mengenai terjadinya proses pembelajaran secara umum berdasarkan cakupan teoritik tertentu. Pendekatan pembelajaran dibagi menjadi dua yaitu student centered approach „pendekatan yang berpusat pada siswa dan teacher centered approach „pendekatan yang berpusat pada guru‟.

Level dibawah pendekatan pembelajaran yaitu strategi pembelajaran. Strategi menurut David (melalui Sanjaya, 2009: 126) adalah a plan, method, or series of activities designed to achieves a particular educational goal. Batasan tersebut menjelaskan strategi adalah suatu perencanaan yang berisi metode, atau serangkaian kegiatan yang didesain untuk mencapai suatu tujuan pendidikan.
Berdasarkan pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa strategi dalam konteks pembelajaran melibatkan guru dan siswa. Guru dalam hal ini berperan menentukan target, kualifikasi hasil,  dan merancang langkah-langkah.  Dengan demikian strategi pembelajaran adalah suatu perencanaan proses suatu kegiatan yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien.

Strategi  pembelajaran  menurut  Rowntree (melalui  Sanjaya,  2008:  128) terdiri dari dua jenis,  yaitu: (1) exposition-discovery learning, dan (2) group- individual learning. Exposition-discovery learning pada dasarnya terdiri dari dua strategi yang berbeda, yaitu strategi penyampaian atau ekspositori; dan discovery learning   yang  berupaya  pada   pembelajaran   penemuan.  Strategi   exposition ekspositori‟ adalah strategi pembelajaran langsung (direct instruction) dengan menyajikan materi pelajaran yang sudah jadi dan siswa diharapkan menguasai secara penuh. Strategi ekspositori menempatkan guru sebagai penyampai informasi. Berbeda dengan strategi discovery, dimana siswa mencari dan menemukan materi pelajaran sendiri melalui berbagai aktivitas. Tugas guru dalam strategi discovery yaitu guru sebagai fasilitator dan membimbing siswa dalam pembelajaran.   Strategi   discovery   disebut   juga   strategi   pembelajaran   tidak langsung.

Strategi group-individual learning merupakan strategi pembelajaran kelompok dan strategi pembelajaran individual. Strategi pembelajaran individual adalah perancangan aktivitas belajar mandiri bagi siswa. Kemampuan individu menentukan tingkat kecepatan keberhasilan penguasaan materi pembelajaran. Materi pembelajaran disajikan atau didesain untuk belajar sendiri, seperti halnya modul pembelajaran. Adapun strategi pembelajaran kelompok yaitu menyajikan pembelajaran dalam bentuk klasikal atau siswa belajar dalam kelompok-kelompok kecil. Strategi ini menempatkan siswa sebagai individu yang sama.

Strategi pembelajaran ditinjau dari cara menyajikan materi dapat dibagi dua, yaitu: (a) strategi pembelajaran deduktif; dan (b) strategi pembelajaran induktif.  Strategi  pembelajaran  deduktif  berupaya  menyajikan  materi  secara umum ke khusus, atau dimulai dari hal-hal yang abstrak   menuju ke hal- hal konkret. Adapun strategi induktif menyajikan materi yang konkret selanjutnya diarahkan pada materi yang kompleks, atau dimulai dari hal khusus menuju ke hal umum.


Level dibawah strategi pembelajaran yaitu metode pembelajaran. Metode pembelajaran menurut Sanjaya (2008: 187) adalah cara yang dapat digunakan untuk melaksanakan strategi pembelajaran. Berdasarkan pendapat tersebut dapat dijelaskan bahwa metode merupakan upaya yang digunakan untuk mengimplementasikan rencana yang sudah disusun dalam kegiatan nyata untuk mencapai tujuan pembelajaran. Metode digunakan untuk merealisasikan strategi yang telah ditentukan. Penerapan satu strategi pembelajaran memungkinkan untuk diterapkannya beberapa metode pembelajaran. Sebagai contoh penerapan strategi discovery  dapat  digunakan:  metode  jigsaw,  metode  mind-  mapping,  metode example- non example, metode problem- solving, dsb.


Level dibawah metode pembelajaran yaitu teknik pembelajaran. Teknik adalah cara yang dilakukan seseorang dalam rangka mengimplementasikan suatu metode dengan memperhatikan situasi dan kondisi yang spesifik. Misalnya, penerapan metode problem-solving pada kelas yang jumlah siswanya sedikit membutuhkan teknik tersendiri, berbeda dengan penerapan metode problem- solving dengan jumlah siswa yang banyak.  Dengan demikian penggunaan metode yang sama pada siswa dengan kondisi yang berbeda akan memberikan teknik yang berbeda pula.

Level dibawah teknik pembelajaran adalah taktik pembelajaran. Taktik pembelajaran  adalah  gaya  seseorang dalam  melaksanakan  metode  atau  teknik pembelajaran tertentu yang sifatnya individual. Adapun contoh penerapan taktik pembelajaran yaitu seorang guru pada saat menyampaikan materi sering memberikan motivasi dengan menceritakan pengalaman kesuksesan orang-orang besar,   sesekali   disertai   dengan   humor.   Ada   juga   guru   yang   lebih   suka menggunakan alat bantu elektronik untuk menarik minat belajar siswa, karena dia memang menguasai bidang tersebut. Taktik pembelajaran bersifat individual, sesuai  dengan  kemampuan,  pengalaman, dan  tipe kepribadian  dari  guru  yang bersangkutan.

Berbagai   istilah   pembelajaran   seperti:   pendekatan,  strategi,   metode, teknik, dan taktik pembelajaran apabila menjadi satu kesatuan utuh, maka akan terbentuklah suatu model pembelajaran. Model pembelajaran menurut Mulyatiningsih (2011: 211) merupakan suatu istilah yang digunakan untuk menggambarkan penyelenggaraan proses belajar mengajar dari awal sampai akhir. Model   pembelajaran   mencerminkan   penerapan   suatu   pendekatan,   strategi, metode,  teknik,  ataupun taktik  pembelajaran  secara sekaligus  untuk  mencapai tujuan  yang  telah  ditentukan.  Berdasarkan  paparan  tersebut  dapat  ditegaskan bahwa model pembelajaran berisi unsur tujuan, tahap-tahap kegiatan, setting pembelajaran, kegiatan guru dan siswa, perangkat pembelajaran (sarana, bahan, dan alat yang diperlukan), hasil pembelajaran yang akan dicapai sebagai akibat proses belajar mengajar. Perancangan model pembelajaran hampir sama dengan penyusunan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang lengkap dengan perangkatnya.

Adapun   diagram   alir   sebagai   gambaran   secara   hierarkis   model pembelajaran, pendekatan, strategi, metode, teknik, dan taktik pembelajaran dapat di cermati sebagai berikut:

Diagram 1: Model Pembelajaran

PENDEKATAN PEMBELAJARAN
Student centered
Teacher centered
STRATEGI PEMBELAJARAN
Exposition-discovery learning
Group-individual learning
METODE PEMBELAJARAN
Ceramah, diskusi, jig saw, team & share
Teknik dan taktik Pembelajaran (spesifik, individual, unik)


Adapun pengelompokkan model pembelajaran menurut Mulyatiningsih (2011: 214) dipilah menjadi 4 kategori, yaitu: (1) model pengolahan informasi, (2) model personal, (3) model sosial, dan (4) model sistem perilaku.

Seiring perkembangan zaman model pembelajaran sekarang juga telah berkembang. Hal tersebut ditunjukkan dengan adanya model pembelajaran PAKEM (Pembelajaran Aktif Kreatif Efektif dan Menyenangkan), kemudian berkembang menjadi PAIKEM (Pembelajaran Aktif Inovatif Kreatif Efektif dan Menyenangkan). Selain itu sekarang juga marak dikembangkan model pembelajaran dari Jepang yaitu lesson study. Lesson study merupakan suatu upaya meningkatkan profesionalitas guru dengan mengamati praktik mengajar mereka sendiri dibantu oleh teman sejawatnya agar pembelajaran menjadi lebih efektif.

Pemilihan dan Manfaat Metode Pembelajaran

Kegiatan pembelajaran  agar dapat mencapai tujuan dengan efektif dan efisien dilaksanakan berdasarkan perencanaan pembelajaran yang tertuang dalam RPP.   Kenyataan yang terjadi terkadang tidak seratus persen berhasil. Ada beberapa faktor yang mempengaruhinya, antara lain:
1.   Faktor   guru,   dalam   hal   ini   berkaitan   dengan   keterampilan   mengajar, mengelola tahapan pembelajaran, dan memanfaatkan metode serta media pembelajaran
2.   Faktor siswa, berkaitan dengan karakteristik siswa baik secara umum maupun khusus atau personal
3.   Faktor kurikulum, berkaitan dengan rumusan tujuan pembelajaran (Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar) dan pengorganisasian isi pelajaran

4.   Faktor lingkungan, perlu diperhatikan lingkungan fisik dan non fisik yang menunjang situasi interaksi belajar mengajar secara optimal.

Berdasarkan paparan tersebut dapat ditegaskan bahwa guru memiliki peranan penting dalam mewujudkan pembelajaran yang efektif dan efisien. Salah satunya guru harus mampu memilih metode yang sesuai agar tujuan pembelajaran dapat tercapai. Adapun   beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam memilih metode, yaitu:
1. Tujuan pembelajaran, selain kompetensi sesuai bidang studi juga perlu dikembangkan pendidikan karakter
2.   Karakteristik materi pembelajaran

3.   Jenis/bentuk kegiatan

4.   Ukuran kelas

5.   Kepribadian dan kemampuan guru

6.   Karakteristik siswa

7.   Waktu

8.   Sarana dan prasarana yang tersedia.


Apabila guru dapat menerapkan metode dengan tepat maka pembelajaran yang berlangsung akan mendapatkan beberapa manfaat. Adapun manfaat penggunaan metode yang tepat dalam pembelajaran adalah sebagai berikut:
1.   Mengarahkan proses pembelajaran pada tujuan pembelajaran
2.   Menghilangkan dinding pemisah guru-siswa

3.   Menggali dan memanfaatkan potensi siswa secara optimal

4.   Menjalin kemitraan guru-siswa

5.   Mempermudah penyerapan informasi

6.   Suasana menyenangkan fun

7.   Memberikan kesempatan siswa untuk belajar secara optimal.


Pembelajaran yang optimal dapat diciptakan oleh guru dengan memfasilitasi siswa untuk memiliki aktivitas pengalaman. Aktivitas pengalaman membantu siswa membuat siswa mampu untuk belajar aktif. Suprayekti (2003:35)  menyatakan  ada  10  langkah  yang  perlu  diperhatikan  untuk  memfasilitasi aktivitas pengalaman, yaitu:
1.   Jelaskan tujuan pembelajaran

2.   Kemukakan  nilai  positif,  manfaat,  dan  keuntungan  dari  hal  yang  akan dipelajari.
3.   Berikan pengarahan dengan jelas

4.   Demonstrasikan aktivitas jika petunjuk dirasa sulit

5.   Jika memungkinkan buatlah pembejaran kooperatif dalam bentuk kelompok

6.   Informasikan penggunaan waktu

7.   Bimbing dan jagalah agar aktivitas tetap berjalan

8.   Siswa perlu dimotivasi atau jika perlu diberi tantangan

9.   Guru selalu memantau aktivitas, dan setiap tahap didiskusikan dengan siswa

10. Tegaskan dan simpulkan proses pengalaman siswa


Proses pembelajaran agar dapat berjalan dengan lancar memerlukan keahlian dalam mengelola pembelajaran. Sukarman (2003: 11) menyatakan bahwa guru dalam mengelola pembelajaran harus memenuhi azas-azas dedaktik, yaitu:
1. Azas apersepsi: suatu pengantar untuk mempermudah pemahaman materi dengan mengaitkan pengalaman atau konseptual yang telah dimiliki siswa.
2. Azas peragaan: konsep akan mudah dipahami jika siswa aktif memanipulasi benda  konkrit  dan  semi  konkrit  sebagai  model  representasi  dari  konsep abstrak.
3. Azas motivasi: guru harus mampu mendorong siswa untuk melakukan sesuatu demi suksesnya tujuan pembelajaran. Hal ini dapat ditempuh dengan cara: memberikan nilai pancingan, hadiah atau penghargaan, menumbuhkan rasa sukses, menciptakan kerjasama antar siswa, membangun suasana kelas yang menyenangkan, dan menunjukkan nilai positif ataupun manfaat hal yang dipelajari.
4.   Azas belajar aktif: guru mengarahkan pembelajaran yang berpusat pada siswa atau student centered. Kesuksesan suatu pembelajaran melibatkan keaktifan mental baik intelektual maupun emosional.
5. Azas kerjasama: belajar dengan bekerjasama antar siswa merupakan satu pemenuhan individu sebagai makhluk sosial. Belajar melalui kerjasama menciptakan   keaktifan   siswa   untuk   memberi   dan   menerima   pendapat, sehingga siswa dapat berlajar antar teman sebaya.
6.   Azas mandiri: guru harus mampu memfasilitasi siswa untuk belajar sebagai individu dengan berbagai karakter yang berbeda.
7.   Azas korelasi: guru mengaitkan suatu pokok bahasan dengan pokok bahasan lain, serta menunjukkan manfaatnya dalam kehidupan nyata.
8.  Evaluasi yang teratur: keberhasilan proses pembelajaran yang ditunjukkan dengan kinerja siswa dalam belajar perlu dievaluasi secara teratur dan berkesinambungan selama dan setelah proses pembelajaran berlangsung.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Most Reading

Blogger templates