SALAM SELAMAT DATANG

"ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH" SELAMAT DATANG DI JELI.WEB.ID "TETAP SEMANGAT MENCERDASKAN BANGSA" dan BERMANFAAT UNTUK ORANG LAIN,

Minggu, 20 Juli 2014

Pembelajaran Berbasis Masalah (Problem Based Learning)


A.          Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelajaran berbasis masalah (Problem Based Learning) adalah suatu model pembelajaran yang melibatkan siswa untuk memecahkan suatu masalah melalui tahap-tahap metode ilmiah sehingga siswa dapat mempelajari pengetahuan yang berhubungan dengan masalah tersebut dan sekaligus memiliki keterampilan untuk memecahkan masalah (Ward, 2002; Stipien, dkk.,1993).
Fogarty (1997) menyatakan bahwa pembelajaran berbasis masalah adalah suatu pendekatan pembelajaran dengan membuat konfrontasi kepada pembelajar (siswa) dengan masalah-masalah praktis, berbentuk ill-structured, atau open-ended melalui stimulus dalam belajar.
Pembelajaran berbasis masalah diturunkan dari teori bahwa belajar adalah proses dimana pembelajar (siswa) secara aktif mengkontruksi pengetahuan (Gijselaers, 1996). Psikologi kognitif modern menyatakan bahwa belajar terjadi dari aksi pembelajar dan pengajar hanya berperan dalam memfasilitasi terjadinya aktivitas konstruksi pengeatuan oleh pembelajar. Guru harus memusatkan perhatiannya untuk membantu siswa mencapai keterampilan seft directed learning.
Pembelajaran berbasis masalah merupakan model pembelajaran yang berorientasi pada kerangka kerja teoritik konstruktivisme. Dalam pembelajaran berbasis masalah, fokus pembelajaran ada pada masalah yang dipilih sehingga siswa tidak saja mempelajari konsep-konsep yang berhubungan dengan masalah tetapi juga metode ilmiah umtuk memecahkan masalah tersebut. Oleh sebab itu, siswa tidak saja harus memahami konsep yang relevan dengan masalah yang menjadi pusat perhatian tetapi juga memperoleh pengalaman belajar yang berhubungan dengan keterampilan menerapkan metode ilmiah dalam pemecahan masalah dan menumbuhkan pola berpikir kritis.
Bila pembelajaran yang dimulai dengan suatu masalah, apalagi jika masalah tersebut bersifat kontekstual, maka terjadi ketidakseimbangan kognitif pada diri siswa. Keadaan ini dapat mendorong rasa ingin tahu sehingga memunculkan bermcam-macam pertanyaan disekitar masalah seperti “apa yang dimaksud dengan...”, “mengapa bisa terjadi...”, bagaimana mengetahuinya...” dan seterusnya. Jika pertanyaan-pertanyaan tersebut telah muncul dalam diri siswa maka motivasi intrinsik mereka untuk belajar akan tumbuh. Pada kondisi tersebut diperlukan peran guru sebagai fasilitator untuk mengarahkan siswa tentang “konsep apa yang diperlukan untuk memecahkan masalah”, “apa yang harus dilakukan” atau “bagaimana melakukannya” dan seterusnya. Dari paparan tersebut dapat diketahi bahwa penerapan pembelajaran berbasis masalah dalam pembelajaran dapat mendorong siswa mempunyai inisiatif untuk belajar secara mandiri. Pengalaman ini sangat diperlukan dalam kehidupan sehari-hari dimana berkembangnya pola pikir dan pola kerja seseorang bergantung pada bagaimana dia membelajarkan dirinya.
Lebih lanjut Arends (2004) menyatakan bahwa ada tiga hasil belajar (outcomes) yang diperoleh siswa yang diajar dengan pembelajaran berbasis masalah yaitu:
(1) inkuiri dan ketrampilan melakukan pemecahan masalah
(2) belajar model peraturan orang dewasa (adult role behaviors)
(3) ketrampilan belajar mandiri (skills for independent learning).
Pembelajaran berbasis masalah dapat diterapkan bila didukung lingkungan belajar yang konstruktivistik. Lingkungan belajar konstruktivistik mencakup beberapa faktor yaitu (Jonassen dalam Reigeluth (Ed), 1999:218): kasus-kasus berhubungan, fleksibelitas kognisi, sumber-sumber informasi, cognitive tools, pemodelan yang dinamis, percakapan dan kolaborasi, dan dukungan sosial dan kontekstual.
Pembelajaran berbasis masalah memiliki karakteristik-karakteristik sebagai berikut:
(1) belajar dimulai dengan suatu masalah
(2) memastikan bahwa masalah yang diberikan berhubungan dengan dunia nyata siswa/mahasiswa
       (3) mengorganisasikan pelajaran diseputar masalah, bukan diseputar disiplin ilmu
(4) memberikan tanggung jawab yang besar kepada pebelajar dalam membentuk dan menjalankan secara langsung proses belajar mereka sendiri
(5)  menggunakan kelompok kecil
(6) menuntut pebelajar untuk mendemontrasikan apa yang telah mereka pelajari dalam bentuk suatu produk atau kinerja.

B.           Tahapan Pembelajaran Berbasis Masalah
Pembelejaran berbasis masalah biasanya terdiri dari lima tahapan utama yang dimulai dari guru memperkenalkan siswa dengan situasi masalah dan diakhiri dengan penyajian dan analisis hasi kerja siswa. Tahapan pembelajaran berbasis masalah dapat diperlihatkan pada tabel dibawah ini
Tahap
Tingkah Laku Guru
Tahap 1
Orientasi siswa pada masalah
Guru menjelaskan tujuan pembelajaran, menjelaskan logistik yang dibutuhkan, memotivasi siswa terlibat pada aktivitas pemecahan masalah yang dipilihnya. Guru mendiskusikan rubric asesmen yang akan digunakan dalam menilai kegiatan/hasil karya siswa
Tahap 2
Mengorganisasikan siswa untuk belajar


Guru membantu siswa mendefinisikan dan mengorganisasikan tugas belajar yang berhubungan dengan masalah tersebut.
Tahap 3
Membimbing penyelidikan individu maupun kelompok

Guru mendorong siswa untuk mengumpulkan informasi yang sesuai, melaksanakan eksperimen untuk mendapatkan penjelasan dan pemecahan masalah.
Tahap 4
Mengembangkan dan menyajikan hasil karya

Guru membantu siswa dalam merencanakan dan menyiapkan karya yang sesuai seperti laporan, video, dan model dan membantu mereka untuk berbagintugas dengan temannya.
Tahap 5
Menganalisis dan mengevaluasi proses pemecahan masalah

Guru membantu siswa untuk melakukan refleksi atau evaluasi terhadap penyelidikan mereka dan proses-proses yang mereka gunakan


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Most Reading

Blogger templates