SALAM SELAMAT DATANG

"ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH" SELAMAT DATANG DI JELI.WEB.ID "TETAP SEMANGAT MENCERDASKAN BANGSA" dan BERMANFAAT UNTUK ORANG LAIN,

Minggu, 20 Juli 2014

Pembelajaran Konstruktivisme


A.          Pembelajaran Konstruktivisme
Salah satu landasan teoritik pendidikan modern termasuk CTL adalah teori pembelajaran konstruktivisme. Pendekatan ini pada dasarnya menekankan pentingnya siswa membangun sendiri pengetahuan mereka lewat keterlibatan aktif  proses belajar-mengajar. Proses belajar- mengajar lebih diwarnai Student centered  daripada teacher centered. Sebagian besar waktu proses belajar-mengajar  berlangsung dengan berbasis pada aktivitas siswa.
Ide-ide konstruktivis modern banyak berlandaskan pada teori Vygotsky yang telah digunakan untuk menunjang  metode pengajaran yang menekankan pada pembelajaran kooperatif,pembelajaran berbasis kegiatan , dan penemuan. Salah satu prinsip kunci yang diturunkan dari teorinya adalah penekanan pada hakikat social dari pembelajaran . Ia mengemukakan bahwa siswa belajar melalui interaksi dengan orang dewasa atau teman sebaya yang lebih mampu .
Teori Vygotsky yang lain mengatakan bahwa siswa belajar konsep paling baik apabila konsep itu berada dalam daerah perkembangan terdekat  siswa. Daerah perkembangan terdekat adalah tingkat perkembangan  seseorang saat ini . Tingkat perkembangan seseorang saat ini tidak lain adalah tingkat pengetahuan awal atau pengetahuan prasyarat itu telah dikuasai, maka kemungkinan sekali akan terjadi pembelajaran hafalan yang membosankan dan tidak menumbuhkan motivasi siswa, apabila proses belajar-mengajar ini terus-menerus berlangsung dari tahun ke tahun, maka kemungkinan besar banyak siswa yang tidak menyukai pelajaran matematika .
Konstruktivisme merupakan landasan berpikir pendekatan konstekstual, yaitu bahwa pengetahuan di bangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperluas melalui konteks yang terbatas dan tidak sekoyong-konyong.Pengetahuan bukanlah seperangkat fakta-fakta, konsep atau kaidah yang siap untuk diambil dan diingat. Manusia harus mengkonstruksi pengetahuan itu dan memberi makna melalui pengalaman nyata.
Siswa perlu dibiasakan untuk memecahkan masalah, menemukan sesuatu yang berguna bagi dirinya, dan bergelut dengan ide- ide. Guru tidak akan mampu memeberikan semua pengetahuan kepada siswa. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak mereka sendiri. Esensi dari teori konstruktivis adalah ide bahwa siswa harus menemukan dan mentaransformasikan suatu informasi kompleks ke situasi lain, dan apabila dikehendaki, informasi itu menjadi milik mereka sendiri.
Dengan dasar itu, pembelajaran harus dikemas menjadi proses  ‘mengkonstruksi’ pengetahuan.Dalam proses pembelajaran , siswa membangun sendiri pengetahuan mereka melalui keterlibatan aktif dalam proses belajar dan mengajar.Siswa menjadi pusat kegiatan bukan guru.
Landasan berpikir konstruktivisme agak berbeda dengan pandangan kaum objektivis, yang lebih menekankan pada hasil pembelajaran. Dalam pandangan konstruktivisme, strategi memperoleh lebih diutamakan dibandingkan seberapa banyak siswa memperoleh dan mengingat pengetahuan.


Hal-hal dalam pembelajaran konstruktivisme yaitu:
1.      Mengutamakan pembelajaran yang bersifat nyata dalam konteks yang relevan
2.      Mengutamakan  proses
3.      Menanamkan pembelajaran dalam konteks pengalaman social
4.      Pembelajaran dilakukan dalam upaya mengkonstruksi pengalaman
Dalam pembelajaran konstruktivisme peranan guru adalah sebagai berikut:
1)      Guru menyediakan pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik dan bertanggung jawab dalam membuat rancangan, proses dan penelitian.
2)      Guru menyediakan atau memberikan kegiatan-kegiatan yang merangsang keingintahuan peserta didik, membantu mereka untuk menngekspresikan gagasan-gagasannya dan mengkomunikasikan ide ilmiah mereka..
3)      Guru menyediakan kesempatan dan pengalaman yang paling mendukung proses belajar siswa
4)      Guru menyediakan sarana yang merangsang siswa berpikir secara produktif.
5)      Guru memonitor, mengevaluasi,dan menunjukkan apakah pemikiran peserta didik berjalan atau tidak.
Dalam pembelajaran ini , guru bukanlah seseorang yang maha tahu dan peserta didik bukanlah yang belum tahu dan karena itu harus diberi tahu.Dalam pembelajaran ini peserta didik aktif mencari tahu dengan membentukpengetahuannya , seddangkan guru membantu agar pencarian itu berjalan baik.dalam banyak hal guru dan peserta didikbersama-sama membangunpengetahuan .Dalam artian inilah hubungan guru dan peserta didik lebih sebagai mitra yang bersama-sama membangun pengetahuan.
                Pengetahuan tumbuh berkembang melalui pengalaman. Pemahaman berkembang semakin dalam dan semakin kuat apabila selalu diuji dengan pengalaman baru. Menurut piaget, manusia memiliki struktur pengetahuan dalam otaknya, seperti kotak-kotak yang masing- masing berisi informasi bermakna yang berbeda – beda. Pengalaman sama bagi beberapa orang akan dimaknai berbeda-beda oleh masing- masing individu dan disimpan dalam kotak yang berbeda. Setiap pengalaman baru dihubungkan dengan kotak-kotak( struktur pengetahuan) dalam otak manusia tersebut. Struktur pengetahuan di kembangkan dalam otak manusia melalui dua cara, yaitu asimilasi atau akomodasi. Asimilasi maksudnya struktur pengetahuan baru dibuat atau dibangun atas dasar struktur pengetahuan yang sudah ada Akomodasi maksudnya struktur pengetahuan yang sudah ada dimodifikasi untuk menampung dan menyesuaikan dengan hadirnya pengalaman baru.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Most Reading

Blogger templates