SALAM SELAMAT DATANG

"ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH" SELAMAT DATANG DI JELI.WEB.ID "TETAP SEMANGAT MENCERDASKAN BANGSA" dan BERMANFAAT UNTUK ORANG LAIN,

Minggu, 20 Juli 2014

Pengertian minat


B.    Minat
1.  Pengertian minat
               Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu diluar diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minat ( Slameto,2003 : 180). Sementara itu Abdilah (1990 : 24) mendefinisikan minat adalah suatu perngkat mental yang meliputi perasaan, harapan, pendirian. Prasangka yang cenderung mengarahkan kepada suatu pilihan tertentu.
Minat juga dapat diartikan sebagai keadaan emosi yang dasarnya ditunjukkan kepada sesuatu. Salah satu keadaan emosi adalah penilaiaan seseorang terhadap sesuatu yang dihadapi. Hasil penilaiannya dalam positif atau negatif, menarik atau tidak menarik, menyenangkan atau tidak menyenangkan. Dalam pengajaran timbulnya minat yang positif, setuju menerima pelajaan, sangat tegantung pada guru yang memberikan pelajaran (Arifin, 1995 : 34 )
Gie (1994) menjelaskan arti penting minat secara teperinci dalam kaitannya dengan pelaksanaan belajar adalah:
a.  Minat melahirkan perhatian yang serta merta
b. Minat memudahkan terciptanya konsentrasi
c.  Minat mencegah gangguan perhatian dari faktor luar
d. Minat memperkuat melekatnya bahan pelajaran dalam ingatan
e.  Minat memperkecil kebosanan dalam belajar
2.  Mengukur Minat Belajar Siswa
 Minat dalam belajar dapat diukur besar presentasenya, selain itu juga dapat dibangkitkan atau dimunculkan. Beragam cara dalam mengukur besarnya persentase minat siswa terhadap sesuatu, baik yang tampak maupun yang tidak tampak.
 Depdiknas, Direktorat Pendidikan Lanjutan Pertama (2002: 10) menjelaskan mengenai pengukuran minat yang dapat dilakukan melalui beberapa cara. Antara lain :
a.  Ekspresi Minat
Ekspresi minat merupakan suatu pernyataan verbal seseorang berupa menyenangi atau tidak menyenangi (preferensi) suatu benda, kegiatan, tugas atau pekerjaan.
b. Manifestasi Minat
Manifestasi minat dapat dikatakan sinonim dengan partisipasi dalam suatu kegiatan atau pekejaan.

c.  Tes minat
Tes minat yang digunakaan berbentuk tes objektif.
d. Inventarisasi
Merupakan pengukuran minat yang diperoleh melalui kuesioner yang berisi pilihan atau prefensi daftar-daftar kegiatan atau pekejaan. Dari pilihan pekerjaan pada setiap pekerjaan pada setiap penyataan menghasilkan skor yang mencerminkan pola minat.
3.  Membangkitkan dan Meningkatkan Minat Siswa
Beberapa ahli pendidikan berpendapat bahwa cara yang paling efektif untuk membangkitkan minat pada subjek yang baru adalah dengan menggunakan minat-minat siswa yang telah ada. Misalnya siswa menaruh minat pada olahraga balap mobil. Sebelum mengajarkan percepatan gerak, pengajaran dapat menarik perhatian siswa dengan menceritakan sedikit mengenai balap mobil yang baru saja berlangsung, kemudian sedikit demi sedikit diarahkan ke materi yang sesungguhnya.
Menurut Arifin (1995 : 35) timbulnya minat untuk membuat perhatian terpusat dapat dilaksanakan dengan jalan :
a.  Mengemukakan kepada siswa apa yang akan dipelajari.
Pada pemulaan belajar siswa hendaknya paling sedikit mengetahui topik pelajaran yang dibicarakan.
b. Melibatkan semua indera dari siswa sebanyak mungkin
Menurut hasil penelitian, yang melibatkan pendengaran saja, hanya menarik perhatian seseorang sebanyak 15 %. Dengan melibatkan pendengaran dan penglihatan maupun menarik perhatian seseorang sampai 55%. Dengan melibatkan indera pendengaran, penglihatan, pikiran dan penggunaan tangan untuk suatu kegiatan tertentu, menambah daya tarik yang mampu menarik perhatian sampai 90%.
c.  Mengemukakan kegunaan mempelajai topik tersebut
d. Mengidentifikasi kompetensi siswa pada saat meneima pelajaran baru
Harjana (1998 : 81) merancang bagaimana meningkatkan minat belajar, yaitu :
a.  Mengarahkan perhatian terhadap tujuan yang hendak dicapai lewat kegiatan belajar itu dan mengaitkan tujuan itu dengan tujuan dan cita-cita hidup.
b. Menyusun rencana kagiatan belajar itu dalam langkah atau tahap-tahap demi tahap. Dengan cara itu kegiatan belajar tampak lebih berat dan menjadi menarik, lalu mendorong kita melakukkan kegiatan belajar itu dengan setia.
c.  Melihat segi-segi menarik unsur fun, “bemain-main” dalam kegiatan belajar yang akan dilakukan.
d. Memandang kegiatan belajar sebagai kegiatan yang paling penting pada saat belajar, dan kegiatan-kegiatan lain yang kalah penting. Karena itu kegiatan belajar dibuat menjadi hal yang paling menuntut waktu, perhatiaan, usaha dan pengorbanaan kita dan mengalahkan kegiatan-kegiatan lain.
e.  Mencari kepuasan dalam kegiatan belajar dan merasa berprestasi besar bila sudah menyelesaikan kagiatan belajar yang sudah diencanaka.
f.  Menjadikan atau mengurangi hal-hal mengganggu keasyikan belajar.
Nasution (2008 : 82 ) minat antara lain dapat di bangkitkan dengan cara-cara berikut :
a.  Bangkitkan suatu kebutuhan (kebutuhan untuk menghargai keindahan, unyuk mendapatkan penghargaan dan sebagainya)
b. Hubungkan dengan pengalaman yang lampau
c.  Beri kesempatan untuk mendapatkan hasil yang baik, “nothing Succeeds like success”. Tak ada yang lebih memberi hasil yang baik dari pada hasil yang baik. Untuk itu bahan pelajaran disesuaikan dengan kesanggupan individu.
d. Gunakan sebagai bentuk mengajar sepeti diskusi, kerja kelompok, membaca, demonstrasi dan sebagainya
Loekmono (1994 : 61) bebberapa hal yang dapat dilakukkan untuk menumbuhkan minat terhadap bidang studi tertentu yaitu :
a.  Berusaha memperoleh informasi tentang bidang studi tersebut
b. Melakukan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan bidang studi tersebut
c.  Setiap siswa hendaknya tampak dan berbuat seakan-akan sungguh berminat. Ini bukanlah penipuan diri, melainkan suatu latihan yang berharga untuk menumbuhakan minat.
        Secara garis besar, sumber minat dapat di bedakan menjadi dua yaitu minat intristik dan minat ekstrinsik. Minat intristik adalah yang berasal dari dalam tanpaadanya rangsangaan dari luar sedangkan minat ekstrinsik adalah minat yang berasal dari luar.
1. Minat intrinsik
Minat intrinsik adalah minat yang berasal dari dalam tanpa adanya rangsangaan dai luar, antara lain :
a.  Ketekunan
© Tekun dalam menghadapi sesuatu
© Dapat bekeja terus menerus
b.  Kesabaran
© Ulet menghadapi kesulitan
© Tidak mudah putus asa
c.  Kemandirian
© Tidak begantung dengan orang lain
© Mengisi waktu luang dalam kegiatan yang bermanfaat
d. Keteguhan
© Tidak cepat bosan dengan tugas rutin
© Menunjukkan keinginan yang besar
2. Minat ekstrinsik
Minat ekstrinsik adalah minat yang berasal dari luar. Minat ekstrinsik dipengaruhi oleh :
a.  Faktor sekolah
Hubungan yang baik antara guru dengan murid, disiplin guu, kemampuan guru dalam menjelaskan pelajaran
b.  Faktor keluarga
Dorongan dari oang tua dan pihak keluarga yang lain
c.  Faktor masyarakat
Minat ekstrinsik ini perlu diberikan karena seseorang tidak senantiasa berada dalam keadaan menetap. Bisa terjadi, seseorang yang mempunyai minat terhadap sesuatu yang tinggi tiba-tiba lemah. Agar minat intristik tidak sampai berada dalam tingkat yang rendah, perlu diimbangi dengan menggunakan minat ekstrinsik (Gie, 1994)
Tanner & tanner menyarankan agar para pengajar juga berusaha membentuk minat-minat baru pada diri siswa. Ini dapat dicapai dengan jalan informasi pada siswa mengenai hubungaan antara suatu bahan pengajaran yang akan diberikan dengan bahan pengajaran yang telah lalu, menguraikan kegunaannya bagi siswa dimasa yang akan datang. Rooijakkes berpendapat hal ini dapat pula dicapai dengan menghubungkan bahan pengajaran dengan suatu berita sensasional yang sudah diketahui kebanyakan siswa.
Bila usaha-usaha diatas tidak berhasil, pengajar dapat memakai insentif dalam usah mencapai tujuan pengajaran. Insentif merupakan alat yang dipakai untuk membujuk seseorang untuk melakukannya atau yang tidak dilakukannya dengan baik.
Studi-studi eksperimental menunjukkan bahwa siswa-siswa yang bekerja secara teratur dan sistematis diberi hadiah karena telah bekerja dengan baik atau karena perbaikan dalam kualitas pekerjaan yang buruk atau karena tidak adanya kemajuan. Menghukum siswa karena hasil kerjanya yang buruk tidak terbukti efiktif. Bahkan hukuman yang terlalu kuat dan sering lebih menghambat belajar. Hendaknya pengajar bertindak bijaksana dalam menggunakan insentif. Insentif apa pun yang digunakan perlu disesuaikan dengan diri siswa masing-masing (slameto,2003 : 180-181).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Most Reading

Blogger templates