SALAM SELAMAT DATANG

"ASSALAMU'ALAIKUM WARAHMATULLAHI WABARAKATUH" SELAMAT DATANG DI JELI.WEB.ID "TETAP SEMANGAT MENCERDASKAN BANGSA" dan BERMANFAAT UNTUK ORANG LAIN,

Minggu, 20 Juli 2014

Problem Posing


  1. Problem Posing
(1)Suryanto (1998) menjelaskan bahwa problem posing adalah perumusan soal sederhana atau perumusan ulang soal yang ada dengan beberapa perubahan  agar lebih sederhana sehinga soal tersebut dapat diselesaikan. Ini terjadi pada soal-soal yang rumit. (2) problem posing adalah perumusan soal-soal yang berkaitan dengan syarat-syarat pada soal yang akan  diselesaikan(Silver, dkk:1996) menekankan pada pengajuan soal oleh siswa. (3) Problem posing adalah pengajuan soal dari informasi yang tersedia, baik dilakukan sebelum, ketika atau setelah kegiatan penyelesaian
Untuk menghasilkan aktivitas mental dalam matematika Silver dan Cai (1996) dalam Tatag Y. E Siswono (2000) mengemukakan  tiga hal yaitu :
a.       Pengajuan  pre –solusi ( presolution posing)  yaitu siswa  membuat soal dari situasi yang diadakan.
b.      Pengajuan di dalam solusi (Within- solution posing) yaitu siswa merumuskan ulang soal seperti yang telah diselesaikan
c.       Pengajuan setelah solusi (post solution posing) yaitu seorang siswa memodifikasi tujuan atau kondisi soal yang sudah diselesaikan untuk membuat soal baru.
Dalam pembelajaran matematika , memberikan soal pada siswa merupakan hal yang sangat strategis. Akan tetapi umumnya soal dibuat oleh guru dan siswa diminta untuk menyelesaikannya, atau guru hanya menugaskan siswa untuk menyelesaikan soal- soal yang sudah tersedia dibuku paket.
Bagi guru membuat soal adalah pekerjaan yang harus dilakukan sehari-hari, oleh karena itu agar seorang guru dapat membuat soal bagi muridnya maka ia haruslah memiliki kemampuan antara lain: (a) menguasai masalah yang akan diselesaikan,(b) mampu menggunakan proses berpikir untuk menentukan konsep atau rumus atau dalil yang akan digunakan untuk menyelesaikannya, dan (c) memiliki  kreativitas dalam menyusun kalimat soal yang dapat dimengerti dan dipahami  orang lain
Kegiatan ini selalu dilakukan guru dari hari kehari selama guru melaksanakan tugas-tugas mengajarnya. Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa guru memiliki kemampuan (a), (b) dan (c) tersebut di atas.
Akan muncul pertanyaan, bagaimana seandainya kegiatan tersebut  dilakukan oleh siswa? Mungkinkah kemampuan  tersebut akan dapat membantu  untuk  meningkatkan proses berpikir siswa.?   
Makalah ini menggangkat suatu gagasan kemungkinan-kemungkinan untuk melaksanakan suatu  pembelajaran sebagai salah satu pertimbangan untuk perbaikan kemampuan siswa dalam memahami konsep-konsep, dan keterampilan  matematika, dengan mengunakan pendekatan  problem posing. 
Gagasan ini berdasarkan pada beberapa hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Sutiarso (1999) yang menyatakan bahwa prestasi belajar siswa yang diajarkan dengan problem posing lebih baik dari pada prestasi belajar siswa yang  diajarkan dengan pendekatan konvensional
As’ari (2000) juga menyarankan bahwa problem posing perlu mendapat perhatian untuk diterapkan di kelas, karena mampu membuat siswa aktif dalam kegiatan pembelajaran dan juga mampu meningkatkan prestasi belajarnya. Meskipun banyak penelitian yang menyatakan bahwa penggunaan pendekatan tersebut dapat memperlihatkan dampak positif dalam prestasi siswa, bukan berarti tidak terdapat  kelemahannya.
Hasil penelitian Silver dan Cai (1996) dalam Yuhasriati (2002) menyatakan bahwa kelemahan utama dari penggunaan pendekatan  problem posing ini berkaitan dengan penguasaan bahasa dimana siswa  mengalami kesulitan dalam membuat kalimat tanya. Akan tetapi kelemahan ini masih  dapat diatasi dengan lebih banyak memberikan kesempatan bagi siswa untuk berlatih dalam membuat kalimat-kalimat tanya yang berhubungan dengan masalah yang dihadapkan.
B. Model Problem Posing
Dalam pelaksanaanya  dikenal beberapa jenis model problem posing antara lain
1        Situasi problem posing bebas, siswa diberikan kesempatan yang seluas-luasnya untuk mengajukan soal sesuai dengan apa yang dikehendaki . Siswa dapat menggunakan fenomena dalam kehidupan sehari-hari sebagai acuan untuk mengajukan soal.
2        Situasi problem posing semi terstruktur siswa diberikan situasi/informasi terbuka. Kemudian siswa diminta untuk mengajukan soal dengan mengkaitkan informasi itu dengan pengetahuan yang sudah dimilikinya. Situasi dapat berupa gambar atau informasi yang dihubungkan dengan konsep tertentu.
3        Situasi  problem posing terstruktur, siswa diberi soal atau selesaian soal tersebut, kemudian berdasarkan hal tersebut siswa diminta untuk mengajukan soal baru.
Dari beberapa jenis situasi problem posing yang diberikan pada siswa, diperoleh beberapa respon siswa terhadap tugas-tugas problem posing.
Ada 3 (tiga) jenis  respon pengajuan soal siswa terhadap tugas problem posing, yaitu
(1)   Pertanyaan matematika.
Pertanyaan matematika adalah pertanyaan yang mengandung masalah dalam matematika dan mempunyai kaitan dengan informasi yang ada pada situasi yang diberikan. Pertanyaan matematika dapat dikategorikan dengan, (i) pertanyaan matematika yang dapat diselesaikan  yaitu jika pertanyaan tersebut memuat informasi yang cukup dari situasi  yang ada untuk diselesaikan  dan (ii) pertanyaan matematika yang tidak dapat diselesaikan jika pertanyaan tersebut tidak memiliki informasi yang cukup dari situasi yang ada untuk diselesaikan atau jika pertanyaan tersebut memiliki tujuan yang tidak sesuai dengan informasi yang ada.
(2)   Pertanyaan non matematika adalah pertanyaan yang tidak mengandung masalah matematika
(3)   Pernyataan adalah kalimat yang bersifat ungkapan /berita yang bernilai benar atau salah saja.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Popular Posts

Most Reading

Blogger templates